Kondisi bangunan rumah Sasnizal yang mendapatkan bantuan program bedah rumah dari Pemerintah Pusat melalui Kementrian PUPR
Prabumulih, Laparta News - Program bantuan bedah rumah yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tidak dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat kurang mampu. Pasalnya, program bantuan tersebut diberikan secara stimulan bagi warga yang menerimanya.


Pada akhirnya, bantuan matrial bangunan yang diberikan secara stimulan ini pun macet. Sehingga warga yang menerima bantuan harus kebingungan untuk melanjutkan bangunan rumahnya. Bahkan tidak sedikit diantaranya bangunan rumah dari bantuan itu terbengkalai lantaran tidak tuntas dikerjakan.


Hal inilah yang dirasakan oleh keluarga Sasnizal (57), warga Jalan Gotong Royong, RT 01 RW 05, Kelurahan Karang Raja, Kecamatan Prabumulih Timur. Sudah hampir lima tahun ia bersama dengan dua orang anaknya terjebak dalam program bantuan bedah rumah yang diterima dari Kementrian PUPR. 

Rumah layak huni yang selama ini diidamkannya dari pemerintah ternyata jauh dari harapan. Bantuan matrial yang diberikan untuk membangun rumahnya hanya mampu membangun sebagian dinding rumah saja, tanpa pintu, jendela dan atap.

Dinding batu bata yang mengepung bangunan rumah lamanya juga sudah mulai berlumut dan lembab. Bahkan kayu kusen pintu dan jendela pun juga sudah mulai lapuk diterpa hujan dan matahari. Parahnya lagi, bangunan rumah lama yang terbuat dari papan juga ikut lapuk bahkan nyaris roboh.

Rumah kayu dengan ukuran 4 x 6 meter persegi itu terlihat lusuh dan berantakan. Lantai rumah pun juga sudah mulai retak dan pecah-pecah. Sebagian atap dan dinding rumah juga sudah mulai rusak dan berlubang. Tak jarang ketika hujan deras mengguyur air akan masuk dan membasahi sejumlah ruangan.

Tak banyak hal yang bisa di perbuat oleh pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang service handphone keliling ini. Kondisi ekonomi yang tidak baik harus memaksa duda dengan dua orang anak ini tetap bertahan tinggal dalam rumah kayu berukuran 4 x 6 meter tersebut.


Sasnizal mengaku, sebelumnya Pemerintah Kota Prabumulih melalui Baznas menjanjikan akan membangun rumahnya yang tidak layak huni menjadi layak huni. Namun, rencana itu dibatalkan lantaran pihak kelurahan mengalihkan bantuan tersebut melalui program bedah rumah dari Kementrian PUPR. Dengan alasan, daftar antri warga yang menerima bantuan bangun rumah baru dari Baznas telah banyak.

Lantaran tidak sabar lagi rumahnya ingin dibedah, Sasnizal pun mnerima tawaran itu. Bantuan bahan matrial tahap pertama pun ia terima senilai Rp7 juta berupa semen, pasir, batu bata dan seng. Bahan matrial itu pun akhirnya digunakan untuk membangun rumah seadanya.

Namun, lama kemudian bantuan berikutnya yang dijanjikan akan segera tiba tak kunjung ia dapatkan. Ia pun sudah berulang kali menanyakan dan menagih hal tersebut kepada pihak kelurahan. Namun pihak kelurahan tidak pernah memberikan keterangan pasti kapan bantuan berikutnya akan ia terima.

"Katanya bantuan akan diberikan dalam tiga tahapan. Tapi bantuan berikutnya tidak pernah datang, saya pun sudah lelah menanyakan hal itu kepada pihak kelurahan. Hasilnya beginilah yang harus saya terima," ujar Sasnizal saat dibincangi portal berita ini di kediamannya, Selasa (25/12).

Dirinya tidak sanggup untuk meneruskan kembali bangunan rumahnya lantaran tidak memiliki dana. Terlebih lagi saat itu ia harus berjuang keras untuk membiayai pengobatan istrinya yang mengidap penyakit kanker payudara. Sejumlah uang tabungan yang ia miliki pun harus terkuras demi kesembuhan istirnya. Namun, takdir berkata lain, istrinya harus meninggal lantaran tak sanggup melawan penyakit yang menyerang dirinya.


Alih-alih untuk meneruskan bangunan rumahnya, untuk makan saja keluarga Sasnizal terkadang mengharap belas kasihan dari sejumlah tetangga yang prihatin dengan kondisi mereka. Untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, Sasnizal berkeliling ke sejumlah pasar kalangan menawarkan jasanya sebagai tukang service handphone.

"Kalau ada hp lama yang sudah rusak saya beli dan saya perbaiki kemudian saya jual kembali. Untuk mendapatkan uang 50 ribu saja sulit rasanya, bagaimana mau meneruskan membangun rumah ini," tuturnya.

Pria berdarah Minang ini pun tak kuasa menahan sedih, disaat Muhammad Ridho anak pertamanya harus memilih berhenti bekerja sebagai buruh kasar di toko. Lantaran harus mengurus rumah, memasak dan mencuci pakaian ayah serta adiknya.

"Pagi-pagi dia sudah berangkat kerja, kadang pulang sudah larut sore. Jadi dialah yang mengurus rumah dan adiknya kalau saya pergi berkeliling ke pasar kalangan mencari nafkah," katanya.

Yang lebih membuat dirinya terenyuh adalah, disaat dirinya menerima bantuan sertifikat prona atas tanah dari Pemkot Prabumulih. Pihak kelurahan setempat meminta dirinya untuk membayar sejumlah uang tebusan. Lantaran tidak memiliki uang, sertifikat tanahnya pun hingga saat ini tidak kunjung diserahkan.

"Orang kelurahan minta uang Rp350 ribu, katanya ukuran tanah yang saya ajukan untuk mengurus bantuan sertifikat gratis itu melebihi ketentuan dari yang ditetapkan. Saya pun bingung bagaimana harus menebusnya, sampai saat ini sertifikat itu tertahan di kelurahan," bebernya.

Sasnizal hanya bisa pasrah dan berharap kepada Pemkot Prabumulih untuk bisa membantu merealisasikan program bantuan bedah rumah miliknya.

"Saya sudah bingung harus meminta bantuan kemana lagi, bahkan sudah sering petugas datang kesini meminta data keluarga saya. Katanya rumah saya mau diselesaikan, tapi sampai saat ini tidak ada kabarnya lagi," tandasnya. (LN 01)


Posting Komentar