Dengan mengendarai sepeda motor, Herman Deru bersama istri temui warga hingga ke lorong sempit

Palembang, Laparta News - Gaya blusukan Herman Deru (HD) memang sudah lama dilakukan sejak awal menjadi Bupati OKU Timur pada tahun 2005 lalu. Tak heran jika kemudian HD dijuluki Bupati 25, artinya setiap minggu nya HD hanya dua hari berkantor di kantor pemda dan lima hari berada di lapangan. Waktunya lebih banyak dihabiskan blusukan bertemu langsung masyarakat. HD ingin mengatahui secara pasti keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Bukan hanya atas laporan staf yang menyenangkan alias ABS (Asal Bapak Senang).

Dalam masa kampanye Pilgub Sumsel 2018 ini, gaya blusukan tetap dipertahankanya. Setidaknya hal itu terlihat ketika HD berkampanye di sejumlah kawasan di Kota Palembang, Jumat (4/5). Bersama isterinya Hj Febrita Lustia, HD menyapa masyarakat  sampai ke pemukiman  warga yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor lantaran jalan yang ada hanya berupa lorong dan gang yang sempit. Seperti di kawasan Lorong Terusan 1 Kelurahan 5 Ulu Darat dan Jalan Mataram 10 Ulu.

Kehadiran Cagub nomor urut 1 yang diusung PAN, NasDem, Hanura dan PKPI itu mendapat sambutan sangat antusias. Pasalnya selama ini belum ada satupun calon gubernur maupun calon walikota yang menyapa mereka yang tinggal di kawasan padat penduduk kelas menengah ke bawah ini.

"Alhamdulillah baru Pak Herman Deru satu-satunya yang mau datang ke kampung kami ini. Tentu saja warga sangat senang bisa bertemu langsung dengan beliau meskipun hanya sebentar. Yang jelas warga senang dengan pemimpin yang mau mendatangi dan bertemu rakyat kecil seperti kami ini" ujar Asmawi Kemis, tokoh masyarakat Lorong Terusan 1.

Begitupun ketika menghadiri undangan sedekah ruahan di Jalan Mataram 10 Ulu, HD disambut antusias. Ratusan warga sudah menyambut kedatangan Ketua Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Sumsel tersebut begitu tiba di mulut lorong pemukiman padat tersebut. Ratusan anak-anak kecil juga kompak  bersama sama meneriakkan nama Herman Deru sepanjang lorong.  Masyarakat begitu gembira menyambut kedatangan sang pemimpin. Tampak sekali mereka merindukan sapaan sang pejabat.

"Ini biasa saya lakukan, bukan untuk mencari ketenaran. Namun, pemimpin memang harus seperti itu, karena kita bisa lebih tahu keadaan yang sebenarnya di lapangan. Bukan hanya mendengar laporan dari bawahan saja. Dengan didatangi langsung tentunya masyarakat akan merasa senang, karena pemimpinnya mau terjun langsung ke lapangan untuk mendengar keluhan maupun aspirasi yang disampaikan masyarakat," tandasnya. (LN 01)

Posting Komentar