Penjabat Walikota Prabumulih H Richard Cahyadi AP MSI saat menyampaikan pidatonya di hadapan warga perantau Minang


Prabumulih, Laparta News - Banyaknya keluhan masyarakat khususnya para pedang di pasar bedug yang telah ditutup oleh Pemerintahan Kota Prabumulih membuat Penjabat Walikota Prabumulih H Richard Cahyadi AP MSI angkat bicara. Ia mengaku terpaksa harus menutup pasar bedug lantaran keterbatasan anggaran.

"Kita tidak bisa meneruskan operasi pasar bedug selama satu bulan penuh. Anggaran yang kita punya juga terbatas," ujar Richard Cahyadi saat menghadiri acara buka puasa bersama warga perantau Minang di Pendopoan Rumah Dinas Walikota Prabumulih, Kamis (31/05).

Richard mengaku, pasar bedug yang dioperasikan selama satu minggu adalah kebijakan dirinya. Padahal menurutnya kegiatan pasar bedug di tahun 2018 tidak dianggarkan ditahun sebelumnya. Maka dari itu Pemkot hanya membuka pasar bedug selama satu minggu. Itupun anggaran yang digunakan berasal dari dana alokasi umum.

"Kalau mau dipaksakan satu bulan, saya harus merampok kemana untuk membayar operasi pasar besug itu. Saya ini hanya sebagai Penjabat Walikota yang tugasnya menjalankan program yang sudah ada," katanya seraya mengaku pedagang tidak serta merta harus menyalahkan dirinya.

Terpisah, Ratna (35), satu diantara pedagang pasar bedug mengaku baru tahun ini operasi pasar bedug digelar selama satu minggu. Menurutnya, meskipun tidak dianggarkan ditahun sebelumnya hendaknya persoalan itu menjadi pertimbangan bagi Penjabat Walikota Prabumulih dalam mencarikan solusinya.

"Harusnya pemerintah sekarang mencarikan solusinya. Siapapun pemimpinnya kami ini tetap masyarakat dan rakyat Prabumulih yang harus mendapatkan perhatian dari pemimpinnya," katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nunung (42), yang mengaku kecewa dengan penutupan pasar bedug. Bahkan hal tersebut telah disampaikan kepada DPRD, namun hingga saat ini belum ada solusi pasti.

"Kami sudah mengadu ke DPRD, tapi belum ada jawaban. Dak tau kapan ado solusinyo, sementaro ini sudah masuk pertengahan puaso. Kapan lagi kami biso bejualan dengan nyaman," keluhnya.

Untuk sementara, meskipun tidak ada tenda, para pedagang pasar bedug terpaksa berjualan di sepanjang trotoar Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di depan Masjin Agung Nur Arafah dan kantor eks Pemkot Prabumulih.

"Tepakso kami bececeran sano sini jualannyo. Kadang harus berebut lapak samo pedagang lainnyo. Pokoknyo dak senyaman dulu lagi kalau nak bejualan," tandasnya seraya berharap Pemkot Prabumulih dan DPRD segera mencarikan solusi terbaik untuk pedagang pasar bedug. (Ichal)

Posting Komentar