Sumbar, laparta News - Objek wisata Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat sudah diubah dengan tampilan yang lebih menawan. Bahkan lokasi objek wisata yang menjadi dambaan warga Kota Bukittinggi ini belakangan menjadi pusat perhatian banyak pihak.

Pasalnya ada yang berbeda dari Jam Gadang saat ini, yakni keberadaan air mancur yang memantulkan cahaya lampu LED dan menambah kecantikan pada icon Kota Bukittinggi tersebut. Jika air mancur itu dilihat pada malam hari, maka akan terlihat air berwarna-warni di sekitar Jam Gadang.

Berdasarkan informasi yang dilansir akun Kabar Minang, video air mancur yang viral di dunia maya itu adalah saat uji coba air menari di kawasan pedestrian Jam Gadang, Bukittinggi. Ujicoba air mancur menari itu dilakukan pada Jumat (14/12/2018) malam. Hadir dalam ujicoba itu Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias beserta jajaran di pemerintahan.

Proses revitalisasi kawasan Jam Gadang itu sebenarnya belum selesai sepenuhnya, karena ada beberapa bagian yang masih dalam proses pengerjaan. Rencananya kawasan taman Revitalisasi Jam Gadang ini akan di buka dan diresmikan pada hari Kamis,  20 Desember 2018. Namun, berhubung proses renovasi belum rampung 100 persen maka peresmiannya pun ditunda hingga pengerjaan selesai.

Revitalisasi Jam Gadang ini dilakukan Pemko Bukittinggi dan menghabiskan anggaran sedikitnya Rp 25 miliar. Selain menghadirkan air mancur menari, juga akan dibangun area untuk pejalan kaki di komplek Jam Gadang. Revitalisasi ini dibuat tiga spot pertunjukan seni budaya. Taman mewah, parkir kendaraan sepeda motor dan mobil. Serta, air mancur warna-warni dan kawasan pendestrian bagi pejalan kaki.

Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".

Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman ini menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.

Dilansir dari wikipedia, ukuran dasar bangunan Jam Gadang yaitu 6,5 x 6,5 meter, ditambah dengan ukuran dasar tangga selebar 4 meter, sehingga ukuran dasar bangunan keseluruhan 6,5 x 10,5 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 36 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul.

Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007. Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi. (Red/Ln 01)

Posting Komentar