Salah satu simpatisan partai melakukan aksi protes saat proses penghitungan surat suara

Prabumulih, Laparta News - Proses pencoblosan dalam Pemilu 2019 yang berlangsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 07 Kota Prabumulih berlangsung ricuh. Sejumlah warga tampak emosi lantaran tidak puas dengan hasil penghitungan suara.

Pasalnya seorang saksi TPS dari salah satu partai mengaku pihak PPS telah melakukan aksi kecurangan dengan memasukan suara tidak sah dalam proses penghitungan hasil suara. Mereka pun tidak puas, sehingga memaksa pihak Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk melakukan penghitungan ulang.

Adu mulut pun terjadi di TPS tersebut, bahkan salah satu simpatisan partai hendak berlaku anarkis dan mengancam akan mengerahkan ribuan massa untuk menuntut PPS. Beruntung aksi tersebut berhasil diredam setelah aparat kepolisian yang melakukan pengamanan memberikan pengarahan kepada sejumlah massa.

Kericuhan di TPS 07 tersebut merupakan proses Pelatihan Pengamanan TPS dalam rangka pengamanan tahap pungut suara Pemilu Tahun 2019 yang digelar oleh Polres Prabumulih bersama KPU, Panwaslu, Bawaslu dan Kesbangpol Kota Prabumulih.

Kapolres Prabumulih, AKBP Tito Travolta Hutauruk SIK MH menjelaskan, simulasi pengamanan TPS tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan bekal kepada seluruh petugas pengamanan maupun panitia penyelenggara pemilu. Sehingga petugas pengamanan maupun panitia penyelenggara pemilu lebih waspada dan siap dalam menghadapi segala bentuk kejadian selama proses pemilu berlangsung.

"Secara teori semuanya sudah dibekali, namun untuk lebih maksimal lagi perlu dilakukan simulasi di lapangan. Mulai dari pemungutan suara sampai dengan tahap penghitungan suara. Sehinga segala bentuk kejadian yang terjadi bisa dihadapi dengan baik oleh seluruh petugas pengamanan dan panitia penyelenggara pemilu," ujar Kapolres.

Lebih lanjut Kapolres mengungkapkan, untuk proses pengamanan Pemilu 2019 yang jatuh pada 17 April 2019 mendatang pihaknya menyiapkan sebanyak 225 personel. Dibantu dengan 55 TNI. Linmas serta pihak penyelenggara pemilu dan pengawas pemilu.

"Melalui simulasi ini diharapkan seluruh peserta khususnya anggota Polres Prabumulih yang melakukan pengemanan lebih paham dan menguasai mekanisme. Tahu mekanisme bukan berarti personil Polri turut campur. Hanya bagaimana caranya mengamankan apabila ada situasi kontigensi yang perlu diambil oleh pihak kepolisian," tegasnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Prabumulih, Marjuansyah berharap, melalui proses simulasi tersebut proses Pemilu 2019 baik itu Pilpres, Pileg dapat berjalan dengan aman dan lancar. Untuk itu pihaknya meminta agar peserta simulasi benar-benar menguasai mekanisme proses penyelanggaraan pemilu.

"Tidak hanya pengamanan, petugas maupun panitia penyelenggara juga harus jeli. Khususnya dalam proses penghitungan suara. Mengingat banyak kertas suara yang akan dihitung, diantaranya surat suara Pilpres, DPR RI, DPD RI, DPR Provinsi dan DPRD Kota," pungkasnya. (LN 01)

Posting Komentar