Bengkulu, Laparta News - Program Keluarga Harapan (PKH) yang disalurkan pemerintah pusat melalui Pemerintah Kota Bengkulu sepertinya belum seluruhnya dinikmati oleh masyarakat. Entah karena sistem yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya atau pasifnya pemerintahan di tingkat kampung dalam memberikan data orang miskin.

Sehingga warga yang hidup di bawah garis kemiskinan yang semestinya berhak menerima dan menikmati program itu, justru tidak pernah merasakanya dan luput dari perhatian pemerintah. Bahkan sudah puluhan tahun mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Dilansir dari suaramerdeka.id, Renaldi (40) seorang wartawan asal Bengkulu menuturkan, berdasarkan hasil investigasinya dilapangan sedikitnya ada 100 Kepala Keluarga (KK) di kampung yang berbeda yang tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Bengkulu.

Yakni Kelurahan Kampung Bali, kampung Melayu, Pematang Gubernur, Kandang Limun, Berkas, Pasar Pantai, Sukamerindu, dan Pasar Minggu. Beberapa warga ini meskipun gembar gembor Pemerintah Kota Bengkulu melaksanakan Program Keluarga Harapan (PKH) namun mereka tidak tersentuh sama sekali.

"Dari hasi Investigasi kami dilapangan sekitar 100 KK yang tidak pernah tersentuh program PKH dari pemerintah di kampung yang berbeda, tapi ada satu kepala keluarga yang membuat kami terenyuh, yakni keluarga yang tinggal di Jalan Medan Baru Rt.12 Rw.03 Kandang Limun, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota bengkulu," Kata Renaldi, minggu (5/5/2019).

Di kampung ini tuturnya ada seorang pria bernama Minim berusia (63) tahun dalam keadaan fisiknya tidak bisa bekerja karena cacat dikarenakan patah kaki akibat jatuh beberapa tahun lalu, namun ironisnya, mereka tidak pernah menerima bantuan pemerintah, seperti PKH, raskin, dan lainya. Padahal mereka merupakan bagian dari warga Kota Bengkulu.

Mirisnya lagi, meskipun dalam kondisi cacat dia harus berjuang sendirian mencari nafkah dengan cara mengemis meminta belas kasihan orang untuk menghidupi 7 orang anak yang masih kecil dan satu orang ibunya yang tinggal di sebuah gubuk reot di kawasan Kota Bengkulu hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Sedangkan istrinya sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu, dan ia harus membesarkan anaknya sendirian yang masih berusia dua bulan dibantu oleh ibunya yang sudah berusia lanjut.

"Kami berharap kepada Pemerintah Kota Bengkulu datang langsung ke kampung-kampung untuk mendata warga yang memang membutuhkan program PKH dan sejenisnya supaya tidak ada kesenjangan sosial terjadi seperti sekarang ini," harapnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Syahrul Tamzie dikonfirmasi via handphone seluler mengakui bahwa banyak warga miskin di Kota Bengkulu yang belum mendapatkan PKH. Termasuk beberapa kampung tersebut, namun pihak Dinsos sekarang sedang melakukan pendataan ulang dan sudah sebagian kelurahan yang sudah didata.

"Warga yang menerima PKH sekarang ini merupakan data sensus tahun 2015 lalu, maka dari itu pihak kita terus melakukan pendataan ulang yang nantinya melibatkan pihak kepolisian dan babinsa setempat guna mengantisipasi terjadi kesalahpahaman terhadap warga yang tidak layak menerima PKH dicoret namanya dari data lama," jelasnya.

Bahkan menurut Syahrul pihaknya sudah melakukan musyawarah tingkat kelurahan yang dihadiri oleh Walikota Bengkulu terkait pendataan ulang warga yang layak menerima PKH, dikarenakan data lama tidak lagi sesuai apa yang ada di lapangan, sedangkan untuk warga bernama Minim itu, pihaknya akan mendatangi langsung ke rumah yang bersangkutan. (Red)

Posting Komentar