Kondisi tubuh Rahiza yang tampak kurus dan lemah saat dipangku kedua orangtuanya

Prabumulih, LapartaNews - Malang betul nasib yang harus dialami oleh Rahiza. Anak kedua dari pasangan Hendrik dan Reni yang beralamat di Jalan Durian Flores, Kelurahan Gunung Ibul Barat, Kecamatan Prabumulih Timur ini harus menderita gizi buruk.

Kondisi balita yang baru berusia 2 tahun ini cukup memprihatinkan. Indeks massa tubuh (IMT) Rahiza pun tidak normal, berat tubuhnya hanya 7 kilogram. Padahal anak seusia dirinya itu harus memiliki berat badan rata-rata 12 sampai 13 kilogram.

Kebutuhan akan gizi yang memadai untuk pertumbuhannya tak mampu terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh desakan ekonomi yang tidak berpihak kepada keluarganya. Sehingga membuat tubuh mungil Rahiza tampak kurus dan lemah.

Hendrik ayah Rahiza hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu sekolahan swasta di Kota Prabumulih.

Reni, ibu bocah malang ini mengaku, kondisi yang dialami oleh putrinya itu sudah berlangsung sejak Rahiza berusia 9 bulan. Tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk kesehatan anaknya. Ia hanya bertumpu pada pengobatan gratis yang setiap bulannya dari puskesmas.

"Pernah diperiksa ke bidan, anak kami ini dinyatakan kurang gizi dan vitamin sampai sekarang. Berat badannya tidak normal dari anak-anak biasanya. Dari puskesmas dapat bantuan obat, vitamin, roti dan juga susu. Tapi itu tidak membuat kebutuhan gizi Rahiza membaik. Ingin rasanya membawa berobat ke rumah sakit, tapi kami tidak punya biaya," ujar Reni.

Tinggal di rumah yang jauh dari kata layak huni membuat kesehatan keluarga dan anak-anaknya tidak terjamin. Mirisnya lagi, dengan kondisi demikian ia tidak pernah mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang diharapkan bisa mengurangi beban keluarganya.

"Kami hanya berharap kesembuhan untuk Rahiza seperti anak-anak seusianya. Mudah-mudahan ada saja mukjizat untuk kesembuhan putri saya," harapnya.

Sementara itu Kepala Pusekmas Prabumulih Timur, dr Indah mengatakan, memang ada anak bernama Rahiza yang saat ini tengah ditangani oleh pihak puskesmas.

"Memang ada bimbingan kita untuk Rahiza karena mengalami kurang gizi. Kasus gizi burik ini menjadi perhatian kita, setiap bulan bidan desa selalu mengontrol kondisi Rahiza dengan diberikan obat, roti dan susu dari puskesmas. Alhamdulillah secara perlahan setelah dikontrol rutin kondisinya sudah ada perkembangan, walaupun tidak signifikan," tuturnya.

Terpisah Lurah Gunung Ibul Barat, Joko Arif menanggapi hal itu mengungkapkan, pihaknya sudah memberikan bantuan secara pribadi maupun dari kelurahan. Hanya saja pihaknya terkendala untuk mengajukan bantuan bedah rumah untuk keluarga tersebut. Disebabkan lokasi berdirinya rumah berada diatas tanah milik PT KAI.

"Kita sudah membantu semampunya bahkan kita ajukan PKH maupun KIS untuk orangtua Rahiza sampai ingin mengajukan bedah rumah namun dikarenakan tanah milik PJKA kita tidak bisa melakukannya," tegas Arif. (LN 01)

Posting Komentar