Sejumlah pemulung tampak berkumpul dan berkeliaran di sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Mereka hadir untuk meminta-minta dan mengharapkan belas kasihan dari pengguna jalan

Prabumulih, LapartaNews - Entah apa yang ada dalam benak sejumlah orang berpakaian seperti pemulung yang berjejer di sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Sebagian besar diantaranya adalah wanita dengan mengenakan kerudung dan pakaian lusuh.

Mereka duduk berkelompok di pinggir jalan. Bahkan berkeliaran seraya membawa karung ditangan layaknya pemulung.

Kian hari keberadaan para pemulung ini terus bertambah. Beberapa diantaranya ada yang telah usia lanjut, dan parahnya lagi mereka dengan sengaja membawa anak-anak untuk turun ke jalan.

Di tengah wabah virus corona atau covid-19 yang saat ini menghantui masyarakat Kota Prabumulih, mereka malah mengabaikan keselamatannya demi mengarapkan belas kasihan dari pengendara yang melintas di jalan.

Disaat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan untuk membagi-bagikan uang, mereka pun langsung berlarian menghampiri mobil tersebut untuk berebut mendapatkan uang. Ada yang menerima Rp5000 sampai Rp20 ribu per orangnya.

Tentunya kondisi ini sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diarahkan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah sebagai langkah memutus mata rantai wabah virus corona. Namun dengan alasan ekonomi mereka mengabaikan arahan itu demi urusan perut dan meminta-minta di jalanan.

Desi (38), satu diantara wanita yang bekerja sebagai pemulung itu mengaku terpaksa harus keluar rumah untuk mencari nafkah. Hal itu ia lakukan sebagai tambahan penghasilan untuk membantu suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan.

Lantaran barang rongsokan yang didapat tidak begitu banyak ia pun lantas mengikuti langkah rekan-rekannya untuk mengemis di pinggir jalan. Belas kasihan para dermawan yang iba melihat kondisi mereka menjadi peluang bagi ia dan rekan-rekannya untuk mendapatkan tambahan uang.

"Terpakso pak, soalnyo kalau di rumah be dak dapat apo-apo. Anak-anak nak makan galo. Kemaren tuh ado bantuan sembako dari pemerintah, tapi aku dak dapat. Padahal berharap nian dapat bantuan itu," ujar wanita yang mengaku sebagai warga Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Prabumulih Barat itu saat dibincangi portal ini, Kamis (16/04/2020).

Ia mengaku sudah hampir satu pekan menjalani aktifitas tersebut. Dalam satu hari ia bisa mendapatkan uang mulai dari Rp50 ribu sampai Rp100 ribu lebih.

"Kadang ado yang ngasih duit, ado jugo yang ngasih beras dan nasi kotak. Kami dak pengen cak ini, tapi oleh keadaan corona kami tambah saro nak nyari makan," katanya.

Sementara itu, sejumlah warga yang melihat banyaknya para pengemis dadakan yang memenuhi Jalan Jendral Sudirman mengaku risih. Pasalnya mereka lebih mementingkan urusan perut dengan minta belas kasihan orang di jalanan dibandingkan menjaga kesehatannya.

Seperti yang disampaikan oleh Ilman (37), pria yang bekerja sebagai tukang ojek ini mengaku resah dengan makin banyaknya para pemulung barang rongsokan yang mangkal di sepanjang Jalan Jendral Sudirman. Bahkan menurutnya pekerjaan pemulung yang mereka lakukan hanyalah modus untuk menjadi pengemis dadakan.

"Karung yang mereka bawak itu paling sikok duo yang ado isi barang rongsokan, selebihnyo isi sembako. Kami ini jingok nian olehnyo mereka galak mangkal dekat pangkalan ojek. Kito khawatir yang ngasih samo yang nerimo terjangkit virus corona. Kalo cak ini bakal tambah banyak yang terserang corona di Prabumulih ini" ungkapnya.

Ia menyayangkan tidak adanya respon atau tindakan dari Pemerintah Kota Prabumulih untuk menertibkan mereka yang berkeliaran di jalanan. Menurutnya keberadaan para pengemis dadakan itu akan menghambat tujuan pemerintah dalam memerangi penyebaran wabah corona di Kota Prabumulih.

Padahal menurutnya Pemkot Prabumulih maupun Polres Prabumulih telah mengimbau masyarakat agar tidak keluar rumah dan mengurangi kegiatan atau aktifitas di luar rumah. Namun kondisi di lapangan bertolak belakang dengan apa yang telah disampaikan dalam himbauan tersebut.

"Kalau kami tukang ojek ini memang tepakso keluar rumah untuk begawe nyari nafkah, bukan untuk mintak-mintak. Kalau pun memang ado dermawan yang nak berbagi rejeki cobo kasih para tukang ojek cak kami ini, jelas bantuan itu untuk anak istri kami di rumah. Kalu jadilah dulu Prabumulih ini ditetapkan sebagai daerah zona merah, jangan pulo ditetapkan sebagai kota pengemis. Olehnyo la banyak nian yang mintak-mintak di jalanan," tandasnya seraya berharap ada tindakan dan solusi dari pemerintah dalam menyikapi kondisi tersebut. (LN 01)

Posting Komentar